Kukira melihat Detektif Oh Mondar mandir dikamarku itu hanya
sekedar mimpi. Ternyata ia benar benar sedang berada di dalam kamarku.
Memasukan baju bajuku ke dalam koper. Mau apa sih dia? Detektif Oh melihatku
yang sudah tersadar
“Bangun dasar KEBO” Katanya sambil menarik selimut. “Kajja!
Buruan mandi sana! Kita akan ketinggalan pesawat nanti kalau kamu tidak cepat”
Pesawat? Kita? Mau kemana? Aku tetap berada dalam pelukan selimut yang super
nyaman. “Ya Sheila Ya, ppaliwa!”
“Mau ngapain sih? Kasus disini kita apa kabar?” Hanya itu
yang ada dipikiranku karena sadar aja belum. Dan aku merasa kita harus pergi
jauh
“Makanya bangun mandi dan buruan, aku jelasin semuanya di
perjalanan” Detektif Oh memberikan handuk mandi dan melemparkan pandangannya ke
kamar mandi
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Disinilah aku sekarang. Incheon International Airport.
Harapanku untuk datang ke seoul dalam bulan ini menjadi kenyataan. Walaupun
berbeda tujuan. Tujuanku dan Detektif Oh kemari untuk mendiskusikan kasus
dengan kolega di seoul. Kasus nona Juhn yang sedang kami tangani berkaitan
dengan seorang dengan kewarganegaraan korea selatan. Maka kami harus
mendiskusikannya dengan Kepolisian disini.
“Aah menurut managernya kita tidak bisa menemuinya hari ini
karena jadwalnya padat hari ini.”
“Bukannya kita dengan kepolisian resmi disini? Kenapa tidak
kita datangi saja dia?”
“Aku takut akan mengulang kejadian beberapa tahun yang lalu.
Yang dilalui teman oppamu”
“ah okay. Aku mau membeli kopi, aku mengantuk sekali. Kamu
tunggu koper saja”
“okay, bawakan aku caramel macchiato!” segera kuberanjak
menuju kedai kopi terdekat. Antriannya cukup panjang sehingga aku baru sampai
didepan. Setelah pesananku jadi aku segera menuju tempat detektif Oh menunggu.
Saat itulah seseorang menabrakku
“Hati hati kalau jalan” Kopi yang kubeli sudah tumpah dilantai.
Orang itu.. “Ya! lihat yang kau perbuat!”
“Aku? Kamu yang
seharusnya berhati hati dan tidak melamun” Suara beratnya terdengar indah.
Aaah apa yang kupikirkan “Lain kali
berhati hatilah, jangan sampai memandikan orang dengan kopi. Panas sekali”.
Lelaki itu tinggi. Sekitar 185cm. kalah tinggi dengan oppaku, hahahaha. Dia
menggunakan pakaian yang sangat santai, jeans kaos dan jaket varsity. Mukanya
tidak terlalu terlihat karena tertutup topi dan masker
“Kalau kau tidak
sedang melamun seharusnya kamu bisa menghindariku” Baru saja dia akan
menjawab, datanglah 2 orang namja. Yang satu berbadan tinggi, tapi tidak lebih
dari namja menyebalkan itu. Dan yang satunya tidak terlalu jauh dari tinggiku,
173cm sepertinya.
“sudah hyung jangan
buat keributan di tempat umum” Kata Lelaki yang tinggi itu sambil merangkul lelaki menyebalkan itu.
Gadis yang melihat matanya pasti langsung terpesona padanya, dia memiliki mata
yang yang sangat menggoda iman. Lelaki yang lebih pendek itu berdiri
disebelahnya diam saja.
“Aah ya dengarkan dia,
jangan buat keributan ditempat umum” Lelaki menyebalkan itu pergi dengan
lelaki yang tinggi. Sedangkan lelaki yang lebih pendek malah berjalan
mendekatiku
“Maafkan chan sudah
menabrakmu dan berkata kasar padamu” Lelaki itu meminta maaf padaku. Ini
bukan salahnya tetapi dia yang meminta maaf. Sedangkan yang bersalah, yang dia
panggil chan itu pergi begitu saja.
“Ah tidak apa. kamu
tidak perlu minta maaf, bukan kamu yang salah” Aku segera memesan kopi lagi
“Aku meminta maaf
karena yang melakukannya Chan. Maaf kan dia. Dia sedang sentitif akhir
akhir ini”
“Tidak apa apa”
lelaki itu mengeluarkan uang dari sakunya dan membayarkan kopiku. “Kau tidak perlu membayarkan kopiku. Aku bisa
sendiri”
“Anggap saja
permintaan maaf dari Chan. Ah iya namaku jun myun” katanya memperkenalkan diri dengan ramah
No comments:
Post a Comment