“Detektif yang lain sudah melihatnya dan sudah
mengidentifikasi wajahnya. Kita akan mengadakan pertemuan siang ini. Tapi aku
perlu meyakinkan diri dengan melihatnya langsung” Segera kubergabung dengannya
melihat rekaman cctv itu. Dalam rekaman tersebut kulihat seorang lelaki kurus
serta tinggi berusia sekitar 30 tahunan dengan rambut coklat berantakan yang
langsung kukenali.
“Tidak mungkin. Dia
ada bersamaku siang itu. Kita sedang menonton tv bersama pada saat itu”
Kataku dalam bahasa korea tentunya karena aku tak mau orang lain mengerti
pembicaran kami
“apa ada orang lain
yang bersama kalian?”
“Ada seseorang yang
datang kerumahku pada saat itu. Dia datang bertamu. Aku dan kwang… em kirin
menemuinya diruang tamu. Aku bisa menghubunginya sekarang kalau mau”
“Terlambat. Kita ada pertemuan sebentar lagi. Kita akan
membahasnya didalam. Siapkan dirimu, Kajja” Detektif Oh menyeretku menuju ruang
pertemuan
Selama Pertemuan khusus membahas kasus nona juhn, aku tidak
bisa focus. Aku hanya memikirkan tentang rekaman cctv yang diperlihatkan
detektif Oh tadi. Tidak mungkin Oppa ada disana saat itu. Jelas sekali dia ada
dirumah denganku. Tetapi kalau dia mengatakan alibinya, hubungan kita akan
diketahui publik. Dia juga tak mungkin bilang sedang ada di Korea, Fansnya
bertemu dengannya 2 hari yang lalu, di taman bermain. Saat penyamarannya
terbongkar karena maskernya terlepas. Untungnya aku sedang tidak bersamanya,
aku sedang membeli makanan kecil.
“Detektif Sheila? Apakah kau mendengarkan?” Panggilan dari
Letnan Tony menyadarkanku dari lamunanku. Seisi ruangan melihat kearahku.
“Maafkan aku letnan, aku hanya sedang tidak enak badan saja
hari ini. Maafkan aku karena tidak focus hari ini” Segera aku meminta maaf dan
kembali melihat kedepan.
“Pulihkan dulu badanmu, kembalilah kemari besok saat badanmu
sudah lebih baik. Detektif Oh akan memberitahukanmu perkembangan dan hasil
pertemuannya. Bagaimana? Kau sudah bekerja terlalu keras akhir akhir ini”
Kulihat kesungguhan dalam tatapan letnan Tony. Maka aku segera pamit dan pulang
kerumah.
Malam harinya Oppa menelepon. Dia menceritakan harinya,
tamunya hari ini, bagaimana dia dikalahkan dan lain lain. Aku suka sekali
mendengarnya bercerita. Kehidupannya disana berbeda dengan kehidupanku disini.
Dia dikelilingi banyak orang yang cantik, godaan tersendiri untuknya. Tetapi
dia jelas sekali bisa bertahan dengan keadaan begitu. Dia kan professional
“….. Akhirnya dengan gampangnya Jaesuk Hyung
merobek label namaku, padahal tinggal sedikit lagi aku bisa mengalahkannya”
Ceritanya dengan semangat 45. Udah kayak mau perang
“Lalu sekarang mau
ngapain kamu? Mau minum sama mereka?” Aku tidak suka kalau dia banyak minum
hingga mabuk berat, merepotkan orang lain. Aku juga tak suka bau alcohol.
“Ah tidak. Nanti ada
yang ngambek lagi kalo aku minum minum. Aku terlalu lelah untuk minum. Mungkin
aku akan pulang dan tidur. Ohiya bagaimana denganmu? Ada kasus kah? Ceritakan
semuanya!” Aku tak tahu harus menceritakannya darimana. Atau justru lebih
baik aku tidak bercerita saja. Tapi kasus ini menyangkut dirinya. Bisa saja aku
menelepon Perdana Mentri Redi untuk menjadi saksi Alibinya kwangsoo oppa tapi
banyak hal yang perlu dipertimbangkan
“Jadi sebenarnya… ada
berita duka saat aku pulang dari bandara kemarin…”
“Moe?! Ceritakan
padaku apa yang terjadi setelah aku pergi!”
“Nona Juhn pengusaha
Kolak itu ditemukan tewas dirumahnya. Ditemukan racun dalam tubuhnya. Diduga
racun tersebut tercampur dalam kolak yang sedang dia buat. Kami baru saja
mengadakan pertemuan khusus untuk kasus ini. Semoga saja tidak memakan waktu
yang lama untuk menemukan tersangkanya”
“Aku turut berduka.
Sedih sekali.. aku suka kolaknya padahal bla bla bla bla…” Kami mengobrol
sampai aku tertidur. Dia baru akan mematikan kalau aku sudah tertidur. Bahkan
kadang tidak dimatikan sampai pagi
No comments:
Post a Comment