***Yang bergaris miring pakai bahasa korea pokoknya
Bisa dibilang kita berdua sudah bahagia dipersatukan. Kalo
menurut orang, Cinta bisa membutakan segalanya, kita berdua setuju dengan itu.
Perbedaan diantara kami pun seperti sudah tidak ada lagi. Dia memang segalanya
bagiku. Dialah orang yang menyadarkanku dari keterpurukan. Dia yang menuntunku
kembali ke jalan yang benar. Dialah alasan dari semua canda tawaku. Usia kami
yang bisa dibilang terpaut cukup jauhpun tidak kami hiraukan. Asalkan kami
bahagia dan saling mencintai itu sudah cukup.
Dia memang lelaki yang tidak biasa. Tidak pernah terpikir
olehku bisa bersamanya seperti sekarang. Umurnya 30 tahun saat aku menulis ini.
Tingginya melebihi rata rata, sekitar 190 cm. Badannya bagus. Rambut coklatnya
berantakan. Senyumnya membuat orag lain yang melihatnya ikut tersenyum. Dia
sangat popular di negaranya, Korea Selatan. Dia adalah seorang model dan actor
terkenal. Dia bermain di Variety Show yang paling mendunia. Sangat berbanding
terbalik denganku. Aku hanyalah gadis Indonesia berumur 22 tahun. Aku tidak
tinggi, hanya 159 cm. aku tidak bisa dibilang kurus, dan tidak bisa dibilang
gendut juga tapi. Rambutku hitam dan lebat. Senyumku biasa saja. Aku tidak bisa
bernyanyi, dan suaraku berat. Aku seorang detektif dan tidak bergelut di bidang
entertainment.
Yang akan aku ceritakan bukanlah kisah cinta klasik kami.
Tetapi cerita tentang apa yang kami hadapi sebelum berbahagia. Cerita ini
berawal saat dimana hari sangat cerah, dia sedang berlibur disini, menghabiskan
waktu bersama. Saat itulah datang seseorang kerumah kami
“Perdana Mentri Redi? Ah apa kabar? Lama tak berjumpa.
Silahkan masuk”
“Kabar baik Sheila. Bagaimana denganmu? Sudah berapa tahun
tidak bertemu” P.M. Redi masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Kami adalah teman
semasa SMP dulu, walaupun dia lebih tua dariku. Kami mengobrol dengan serunya.
Tiba tiba saja lelaki itu bergabung. Terlihat dari raut mukanya, kalau dia
tidak suka ditinggal sendirian
“Sheila-ya, siapa itu?”
tanyanya penasaran
“Ah ini Perdana
Menteri Redi. Dia kakak tingkatku semasa SMP” kurasa lelaki itu tidak
terlalu tertarik dengan jawabanku. Dia bertanya karena ingin diajak mengobrol
juga. Menggemaskan sekali
“Jadi ini pria yang sedang dipuja puja banyak gadis, yang
kabarnya berpacaran dengan gadis Indonesia. Beritanya sangat menggemparkan loh.
Tak kusangka ternyata gadis itu kamu.” Lebay sekali jika menggunakan kata
dipuja puja. Dan aku tidak menduga sebelumnya bahwa berita itu bisa sampai di
telinga perdana mentri. Update sekali perdana mentri yang satu ini.
“My name is lee kwang soo, you can call me kwang soo even I
know that I am older than…..”
“oppa” aku mengingatkannya
“Aaaah I am sorry but in my country if I am older than you,
you should call me hyung, not calling name. I am sorry I can’t addaptade with
this culture” dia menangkap maksutku
“It’s okay kwangsoo, aku juga tidak bisa berlama lama, aku
akan kerumah Nona Juhn. Kudengar kolak buatannya sangat nikmat. Bahkan Jennifer
Lopez pun ketagihan. Aku pamit dulu ya” P.M. Redi pun pergi menuju ruman Nona
Juhn
“Mau kemana dia?” Lucu
sekali karena dia jarang sekali banyak bertanya seperti ini
“ketempat Nyonya Juhn.
Mau makan Kolak dia”
“aaah kolak nyonya
juhn. Sangat menyegarkan dan sangat laris. Bahkan pendapatannya sehari lebih
banyak dari gajiku sekali shooting” tangannya melingka di bahuku “Bagaimana kalau kita menaruh saham disana?
Sangat menguntungkan sekali kalau dipikir pikir”
“Heeem bisa jadi. Tapi
aku yakin nona Juhn tidak membutuhkan seseorang berinvestasi. Aah Aigo oppa,
kita harus ke bandara sekarang. 2 jam lagi pesawatmu ke Jakarta akan berangkat”
“Aku benci kalau sudah
saatnya kembali ke rutinitasku. Meninggalkanmu disini sendiri. Semoga kau cepat
pindah ketempatku” dia beranjak masuk ke kamar untuk bersiap siap dan
mengambil kopernya.
Aku pun sama segera bersiap untuk mengantarnya ke bandara.
Sebenarnya aku juga berharap cepat pindah ke negaranya, gak tak terlalu lama
memendam rindu. Pasti menyenangkan menunggunya pulang shooting atau photoshoot,
menghindari fansnya yang ada banyak di seluruh dunia. Mengerikan memang, tapi
itu menyenangkan selama aku melakukannya dengannya
Perjalanan ke bandara terasa cepat sekali. Kami membicarakan
hal hal yang tidak sempat kami bicarakan selama 3 hari ini. Kami juga membuat
to do list yang harus kami lakukan bulan depan, saat dia kembali ke sini. Dia
berjanji untuk datang bersama Ji Hyo Oenni dan Kang Gary oppa. Melepasnya
pulang di bandara adalah hal yang paling aku benci. Keramaian di depan rumah
Nona Juhn menarik perhatianku sepanjang jalan pulang. Akupun segera turun dan
langsung membaur dikeramaian untuk melihat ada apa. Disana aku melihat ada 3
mobil polisi, 1 mobil ambulance dan mobil perdana mentri. Redi berada disini.
“Ah Sheila! Kemari!” Redi memanggilku. Matanya jeli sekali
bisa melihatku di keramaian seperti ini
“Ada apa? Apa yang terjadi pada Nona Juhn?”
“Nona Juhn tewas”..................................(to be continued)
No comments:
Post a Comment