Sunday, June 14, 2015

Antara aku kamu dan terkadang Kolak (1)

***Yang bergaris miring pakai bahasa korea pokoknya


Bisa dibilang kita berdua sudah bahagia dipersatukan. Kalo menurut orang, Cinta bisa membutakan segalanya, kita berdua setuju dengan itu. Perbedaan diantara kami pun seperti sudah tidak ada lagi. Dia memang segalanya bagiku. Dialah orang yang menyadarkanku dari keterpurukan. Dia yang menuntunku kembali ke jalan yang benar. Dialah alasan dari semua canda tawaku. Usia kami yang bisa dibilang terpaut cukup jauhpun tidak kami hiraukan. Asalkan kami bahagia dan saling mencintai itu sudah cukup.

Dia memang lelaki yang tidak biasa. Tidak pernah terpikir olehku bisa bersamanya seperti sekarang. Umurnya 30 tahun saat aku menulis ini. Tingginya melebihi rata rata, sekitar 190 cm. Badannya bagus. Rambut coklatnya berantakan. Senyumnya membuat orag lain yang melihatnya ikut tersenyum. Dia sangat popular di negaranya, Korea Selatan. Dia adalah seorang model dan actor terkenal. Dia bermain di Variety Show yang paling mendunia. Sangat berbanding terbalik denganku. Aku hanyalah gadis Indonesia berumur 22 tahun. Aku tidak tinggi, hanya 159 cm. aku tidak bisa dibilang kurus, dan tidak bisa dibilang gendut juga tapi. Rambutku hitam dan lebat. Senyumku biasa saja. Aku tidak bisa bernyanyi, dan suaraku berat. Aku seorang detektif dan tidak bergelut di bidang entertainment.

Yang akan aku ceritakan bukanlah kisah cinta klasik kami. Tetapi cerita tentang apa yang kami hadapi sebelum berbahagia. Cerita ini berawal saat dimana hari sangat cerah, dia sedang berlibur disini, menghabiskan waktu bersama. Saat itulah datang seseorang kerumah kami

“Perdana Mentri Redi? Ah apa kabar? Lama tak berjumpa. Silahkan masuk”

“Kabar baik Sheila. Bagaimana denganmu? Sudah berapa tahun tidak bertemu” P.M. Redi masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Kami adalah teman semasa SMP dulu, walaupun dia lebih tua dariku. Kami mengobrol dengan serunya. Tiba tiba saja lelaki itu bergabung. Terlihat dari raut mukanya, kalau dia tidak suka ditinggal sendirian

Sheila-ya, siapa itu?” tanyanya penasaran

Ah ini Perdana Menteri Redi. Dia kakak tingkatku semasa SMP” kurasa lelaki itu tidak terlalu tertarik dengan jawabanku. Dia bertanya karena ingin diajak mengobrol juga. Menggemaskan sekali

“Jadi ini pria yang sedang dipuja puja banyak gadis, yang kabarnya berpacaran dengan gadis Indonesia. Beritanya sangat menggemparkan loh. Tak kusangka ternyata gadis itu kamu.” Lebay sekali jika menggunakan kata dipuja puja. Dan aku tidak menduga sebelumnya bahwa berita itu bisa sampai di telinga perdana mentri. Update sekali perdana mentri yang satu ini.

“My name is lee kwang soo, you can call me kwang soo even I know that I am older than…..”

“oppa” aku mengingatkannya

“Aaaah I am sorry but in my country if I am older than you, you should call me hyung, not calling name. I am sorry I can’t addaptade with this culture” dia menangkap maksutku

“It’s okay kwangsoo, aku juga tidak bisa berlama lama, aku akan kerumah Nona Juhn. Kudengar kolak buatannya sangat nikmat. Bahkan Jennifer Lopez pun ketagihan. Aku pamit dulu ya” P.M. Redi pun pergi menuju ruman Nona Juhn

Mau kemana dia?” Lucu sekali karena dia jarang sekali banyak bertanya seperti ini

ketempat Nyonya Juhn. Mau makan Kolak dia

aaah kolak nyonya juhn. Sangat menyegarkan dan sangat laris. Bahkan pendapatannya sehari lebih banyak dari gajiku sekali shooting” tangannya melingka di bahuku “Bagaimana kalau kita menaruh saham disana? Sangat menguntungkan sekali kalau dipikir pikir”

“Heeem bisa jadi. Tapi aku yakin nona Juhn tidak membutuhkan seseorang berinvestasi. Aah Aigo oppa, kita harus ke bandara sekarang. 2 jam lagi pesawatmu ke Jakarta akan berangkat”

“Aku benci kalau sudah saatnya kembali ke rutinitasku. Meninggalkanmu disini sendiri. Semoga kau cepat pindah ketempatku” dia beranjak masuk ke kamar untuk bersiap siap dan mengambil kopernya.

Aku pun sama segera bersiap untuk mengantarnya ke bandara. Sebenarnya aku juga berharap cepat pindah ke negaranya, gak tak terlalu lama memendam rindu. Pasti menyenangkan menunggunya pulang shooting atau photoshoot, menghindari fansnya yang ada banyak di seluruh dunia. Mengerikan memang, tapi itu menyenangkan selama aku melakukannya dengannya

Perjalanan ke bandara terasa cepat sekali. Kami membicarakan hal hal yang tidak sempat kami bicarakan selama 3 hari ini. Kami juga membuat to do list yang harus kami lakukan bulan depan, saat dia kembali ke sini. Dia berjanji untuk datang bersama Ji Hyo Oenni dan Kang Gary oppa. Melepasnya pulang di bandara adalah hal yang paling aku benci. Keramaian di depan rumah Nona Juhn menarik perhatianku sepanjang jalan pulang. Akupun segera turun dan langsung membaur dikeramaian untuk melihat ada apa. Disana aku melihat ada 3 mobil polisi, 1 mobil ambulance dan mobil perdana mentri. Redi berada disini.

“Ah Sheila! Kemari!” Redi memanggilku. Matanya jeli sekali bisa melihatku di keramaian seperti ini

“Ada apa? Apa yang terjadi pada Nona Juhn?”


“Nona Juhn tewas”..................................(to be continued)

No comments:

Post a Comment